Menjaga Warisan Dari Nenek Moyang
Kamis, 17 Oktober 2019, Bapak Syahrul Qodri selaku dosen mata kuliah filologi memberi kami tugas untuk mencari seorang tokoh masyarakat suku Sasak yang memiliki naskah kuno, untuk kami mempelajarinya. “Tentu saja tujuan utama dari tugas ini tidak lain supaya kita bisa mengetahui dan mempelajari peninggalan atau warisan dari nenek moyang kita sendiri” .
Minggu, 20 Oktober 2019, saya bersama tiga teman saya yaitu Mia, Wahyu, dan Helmi berangkat menuju Desa Abiantubuh, tepatnya menuju rumah Pak Ikin Setiawan seorang tokoh masyarakat di daerah tersebut. Pak Ikin sendiri adalah usulan dari Mia, yang katanya mempunyai naskah kuno yang kami cari.
Sesampai di Abiantubuh kami masuk ke lingkungan Karang Parwa, kawasan tempat Pak Ikin tingal. Ditengah perjalanan kami berhenti di salah satu warung untuk menanyakan tempat Pak Ikin tinggal, karena kami belum tahu pasti dimana tempat rumah Pak Ikin. Tak lama kemudian kami diarahkan menuju ke rumah Pak Ikin.
Singkat cerita kami sampai di rumah Pak Ikin. Beliau bersama keluarganya sangat ramah menerima kedatangan kami, dengan senyum manis yang terlintas di bibirnya mempersilahkan kami untuk duduk. Setelah itu kami memperkenalkan diri dan menjelaskan apa maksud dan tujuan kedatangan kami.
Setelah mengetahui maksud dari kedatangan kami, Pak Ikin langsung menceritakan terlebih dahulu mulai dari silsilah keluarganya, ia mengatakan bahwa dirinya merupakan keturunan dari kerajaan Selaparang yang ada di Lombok beberapa abad silam. Ia juga menceritakan mengenai ritual yang ada di Lombok seperti proses perkawinan suku Sasak. Ia mengatakan ritual yang ada di suku Sasak seringkali mencerminkan syarat-syarat agama Islam. Beliau mencontohkannya dalam ritual adat sorong serah.
Setelah bercerita mengenai kebudayaan, adat istiadat suku sasak, ia mulai membahas mengenai naskah kuno. Ia mengatakan bahwa dulu dirinya memang mempunyai atau menyimpan takepan berisi naskah kuno yang merupakan peninggalan dari nenek moyangnya. Akan tetapi beberapa takepan telah dirampas dengan alasan meminjam, dan tak pernah dikembalikan lagi oleh orang belanda pada masa itu.
Dulu ia juga mempunyai sebuah piagam kerajaan berjenis laki-laki, akan tetapi telah dirampas setelah Belanda curiga dengan piagam tersebut. Dan satu-satunya piagam kerajaan yang tersisa yaitu di desa Bengkel, piagam tersebut diyakini adalah istri dari piagam yang dirampas.
(Kembali ke naskah), Ia masih sedikit mengingat beberapa isi dari naskah tersebut, yang berisi mengenai masalah ajaran agama, petunjuk ritual keagamaan, serta peristiwa zaman dahulu. Ia mengatakan naskah tersebut sangat penting pada masa itu, karena pada masa itu ajaran islam belum sepenuhnya dilaksanakan. Pada masa itu kerajaan Bayan lah yang sepenuhnya memegang agama islam, tetapi masih menggunakan islam waktu telu.
Satu-satunya pusaka tersisa yag masih beiau simpan adalah keris, parang atau bateq dalam bahasa sasaknya. Akan tetapi beliau tidak mengizinkan kami untuk melihatnya, sebab berdasarkan amanah dari orang tua beliau, pusaka tersebut tidak boleh dikeluarkan kalau belum ada tanda-tanda genting.
Ia mengatakan pusaka tersebut akan dikeluarkan pada saat perang dunia ke tiga (pada akhir zaman). Beliau sangat takut akan piwal atau durhaka kepada orang tuanya jika melanggar perintah.
"Kalau mau mempelajari lebih dalam mengenai naskah kuno langsung saja ke Sakra, Lombok Timur, karena disanalah pusatnya" ungkapnya.
#filologi #belajarkebudayaan
#galerihitamputih
Pak ikinnnn..
BalasHapusGanteng
HapusBagus did. Semangattt
BalasHapusMakasih hehe, sama-sama semangat.
HapusKeren banget👍
BalasHapus😁Terima kasih kawan, kamu juga keren.
HapusMenarik sekali, ditunggu tulisan selanjutnyaaa...
BalasHapusSemangat anak muda😊
BalasHapusAwal yg baik, tapi ada tempatnya typo
BalasHapusTerimakasih atas informasi yang telah diberikan. Semoga nantinya bisa bermanfaat.
BalasHapusSemoga bermanfaat untuk semuaaa
BalasHapusBagus! Ditunggu bagian berikutnya yang membahas mengenai takepan secara rinci.
BalasHapusTerima kasih untuk masukannya teman-teman.
BalasHapusPeajaran yang menarik. Di tunggu tulisan selanjutnya.🙏
BalasHapusMantulll bengbeng
BalasHapusSalam sama Pak Ikin
BalasHapusAkupun tergilagila pada tulisanmu
BalasHapus