Policik

Ketika Matahari terbenam dari arah barat, gelap mulai menyelimuti jalanan Kota. Gatot berjalan di atas trotoar jalanan Kota tersebut. 

Di sekeliling jalanan kota itu banyak terpampang baliho-baliho beserta pernak-pernik partai politik. Tak kalah juga potret sangar para calon Politikus yang sudah menghiasi samping jalanan. Mulai dari jalan raya, jalan menuju desa-desa, jalanan pelosok, dan gang-gang kecil. Karena sebentar lagi pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Gatot mulai tersenyum membaca visi misi yang ada di baliho-baliho tersebut. "Ah... paling nanti kalau sudah terpilih pasti mengingkari janji-janjinya, visi misinya, dasar politikus kampret" Gatot tersenyum sembari geleng-geleng kepala.

Gatot yang sangat membenci perpolitikan semenjak kedua orang tuanya berpisah gara-gara berbeda pilihan ketika pemilihan capres cawapres tahun lalu. Dan akhirnya berpisah karena Bapaknya memarahi Ibunya karena pilihan Ibunya yang berhasil menjadi Presiden, lalu mengingkari janji-janjinya ketika berkampanye dulu.

Tak lama kemudia Gatot didatangi oleh seorang pemuda berpakaian rapi. "eh... Kamu kenapa cengar-cengir melihat baliho-baliho itu?" ungkap pemuda itu menghampiri.

"Aku hanya tersenyum melihat visi misi yang ada di semua baliho itu" ungkap gatot sambil tersenyum.

"Santai pasti visi misi yang ada di baliho-baliho tersebut akan tercapai, asalkan kita pandai memilih calonnya saja" ungkap pemuda itu sambil menepuk punggung Gatot.

"Hah... Apa anda tidak bosan digombali oleh janji-janji, visi misi, dari calon koruptor itu?" ungkap Gatot, yang sudah dirasuki kebencian terhadap dunia perpolitikan. Gatot tak banyak bicara lalu meninggalkan pemuda tersebut.

Gatot pulang ke rumahnya melewati gang yang dipenuhi oleh orang-orang gila politik atau bisa disebut suporter dari masing-masing kubu calon, yang sedang berdebat tentang siapa yang akan memenangkan audisi perpolitikan tersebut.

Ditengah perjalanan Gatot dihampiri oleh salah satu lelaki yang ikut berbincang mengenai audisi perpolitikan tersebut. "Nomor dua" ucap lelaki itu sambil menyodorkan uang 100.000 ke tangan Gatot.

"Ma'af ini apa? saya tidak mau mengambil uang ini. Sebenarnya ini permainan bung, sekarang kita dikasih uang 100.000 besok uang kita akan diambil lebih banyak dari yang kita terima" ungkap Gatot langsung menyambut perkataan lelaki itu.

"Goblok" ungkap lelaki itu lalu menyimpan kembali uang tersebut.

"Siapa yang goblok? Orang yang menyuap dan disuap lebih goblok.

"Tidak apalah goblok! Saya hanya menjalankan perintah dari Caleg demi kemenangannya. Ah... yang penting saya dapat uang" ucap lelaki itu sambil tertawa.

Gatot cepat-cepat melanjutkan langkahnya karena tidak mau memanas suasana.

"Ini Politik atau Policik" ungkapnya di dalam hati.

#monyokroom

Embungpas_Lobar, 03 November 2018.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biogtafi Singkat SLANK

Menjaga Warisan Dari Nenek Moyang

Merdeka?

Nasiku Sudah Menjadi Bubur